Kisah Cinta Reza Fahrefi Menwa

Standar

Saya berhenti sekolah karena pacar menikah, semua itu terjadi karena aku cinta mati. Waktu pesantren sederajat Aliah, sempat putus sekolah selama tiga bulan, di dalam rumah hidup tidak karoan.
Setelah lama melihat teman – teman berlaluan di jalan depan rumah saya menjadi rame, timbullah ke inginan untuk sekolah kembali. Di rumah pun kesepian, karena tidak terbiasa dengan keadan di rumah yang sepi, di sekolah saya selalu bermain , bercanda , yang jelas rame – rame dengan teman kadang – kadang jalan – jalan bila BT di kelas, bahkan nekat bolos.
Ketika saya kembali ke sekolah saya bertanya dengan pak guru “boleh ngak pak saya masuk lagi” kata saya, “boleh” kata pak guru. “ikam be apa aja kenapa jadi parai lawas, apa mengganii kuitan kah” lanjut bapak “inggih” jawabku. “ya udah masuk aja kada papa, kaena jangan lagi kaya itu, mu nada masalah bepadah aja”. Setelah itu lanjut saya masuk kekelas dengan malu – malu, sempat juga dihapaki kawan pacar punk kawin . setelah itu belajarlah saya seperti biasa walau agak canggung sedikit dan untuk mata pelajaran matematika saya banyak ketinggalan rumus sehingga nilai itu pas – pasan , bagaimana tidak Baru masuk beberapa mingu langsung ulangan mendapat nilai merah.
Tidak terasa saya menginjak kelas dua sekarang menjadi seniorlah, saya kebetulah juga menjadi panitia masa orentasi siswa. Saya sangat menjalankan peran saya sampai – sampai ada siswi yang pingsan.
Ketika saya pulang sekolah dengan mengayuh sepeda saya beristirahat di muka kebun orang dan minum bersama teman satu kampung. Ketika beristirahat lewat lah dua orang siswi, mereka berhenti dan sepertinya mereka tidak berani atau ragu – ragu melanjutkan perjalanannya untuk pulang kerumah. “beimbayan yuk buliakan asa kada wani bedahulu” salah satunya di antara mereka membuka pembicaraan. “ayuk” kata kami, asyik dalam hati ini merasa girang. “esok be imbayan pulangkah sekolah, kaina hadangi kami handak beimbai pulank” kata cewek itu.
Setelah saya beberapa bulan saya bersama dengan cewek itu saya timbullah rasa seperti yang saya alami pada waktu di kelas satu dahulu. Kemudian saya mengatakan cinta melewati surat karena saya merasa yakin akan di terima, saya sudah merasa dekat, nyaman, dan sepertinya cocok. Surat itu saya kirimkan lewa temannya. keesokan harinya di balasnya surat yang saya kirimkan dia mnyatakan bahwa dia juga suka dengan saya. Saat itu saya merasa bahagia setelah membaca surat itu. Luar biasa tanggapannya saya di bawa untuk bemasakan di rumahnya dan berkenalan dengan orang tuanya. Orang tuanya bertanya pada pacar saya “inikah luh pacar ikam, lawaslah udah pacaran” “hanyar am ma ai” kata pacar saya “he eh mudahan sampai ke pelaminan”.
Setelah beberapa lama menjalin hubungan dengan pacar saya tanpa pengetahuan orang tua saya. Setelah berjalan kira – kira tiga bulan ada orang yang memberitahu bahwa saya sedang pacaran dengan wanita yang menjadi pacar saya, ternyata orang itu memberitahukan kepada orang tua saya bahwa wanita yang menjadi pacar saya itu tidak baik orangnya, suka jalan – jalan dengan cowok dll. Hal itu menjadikan orang tua saya bertanya kepada saya “bujurlah ikam pacaran lawan bebinian ngitu”. “inggih mama ai”. “ujar orang bebinian itu kada baik, suka jalan – jalan lawan lelakian. Hakunnya punk ikam!”.”dustai orang aja ma’I” , “:aku kada ketuju ikam pacaran lawan ngitu, Pokoknya ikam ampih bepacaran lawan ngintu” “Ngeh ma’i.”
Setelah pembicaraan dengan orang tua saya , saya masih berhubungan dengan pacar saya, setelah lama dan terlalu seringnya saya bermain ke rumanya, ada paman pacar saya menemui saya sedang berdua di rumah dan beliau tidak senang melihatnya dan saya pun langsung di usir. Setelah kejadian itu ributlah tetangga di sekitarnya termasuk keluarga saya yang juga ada tinggal di sekitar tempat itu. Setelah berselang beberapa waktu sampailah kabar itu ke telinga orang tua saya, yang datangnya dari keluarga saya sendiri. Setelah mendengar hal demikian orang tua saya (ibu) menagis menanggung malu. Setelah itu saya di marahin oleh orang tua saya dengan dasyatnya seperti melepaskan rasa kekecewaan dan kekesalannya.
To be continue,,,,,,,!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s