Hadits dalam masa kelima , Masa mentashihkan hadits dan penyusunan Qaedah-Qaedahnya

Standar

Hadits dalam masa kelima , Masa mentashihkan hadits dan penyusunan Qaedah-Qaedahnya
A. Masa membukukan hadits semata-mata (hadits dalam abad ketiga).
Para ahli abad kedua –sebagai yang telah diterangkan –tidak mengasingkan hadits dari fatwa –fatwa sahabat dan tabi’in.keadaan ini diperbaiki oleh ahli abad yang ketiga.Ahli abad ketiga ketika mereka bangkit mengumpulkan hadits ,mereka mengasingkan hadits dari fatwa-fatwa itu.mereka bukukan hadits saja dalam buku-buku hadits.akan tetapi satu kekurangan pula yang harus kita akui,ialah: mereka tidak memisahkan hadits-hadits.yakni mereka mencampur adukan hadits sahih dengan hadits hasan dan dengan hadits dla’if.segala hadits yang mereka teriam ,mereka dewankan dengan tidak menerangkan keshahihannya,atau kedlaifannya.Lantaran itu tak dapatlah orang yang kurang ahli mengambil hadits-hadits yang terbuku di dalamnya.
Dapat kita katakan bahwa besar kemungkinan ,shahifah abu bakar ibn hazm membukukan hadits saja mengingat perkataan umar kepadanya
“Jangan anda terima melainkan hadits Rasul SAW.”(HR.Muslim)
Maka yang mula-mula mengumpulkan hadits yang hanya mengenai suatu sebab saja ,ialah Assya’bi. Beliau telah mengumpulkan hadits-hadits yang mengenai talak .Beliau adalah seseorang imam yang terkemuka dalam permulaan abad kedua hijrah.
Dan mereka menyusun itu secara musnad.
Yang mula-mula menyusun secara musnad ini ,ialah :
1. Abdullah ibn musa Al’abasy al Kufy
2. Musaddad ibn Musarhad Al Bashry
3. Asad ibn musa Al Amawy
4. Nu’aim ibn Hammad Al’khuzay
5. Ahmad ibn Hanbal
6. Ishaq ibn rahawaih
7. Utsman ibn abi syaibah

B. Bertambah meluas lawatan ,penyusunan kaidah dan pentashihan hadits
Dalam abad ketiga Hijrah ini memuncaklah usaha pembukuan hadits
Sesudah kitab-kitab ibn juraij,Muwattha’malik tersebar dalam masyarakat serta disambut dengan gembira,hidupalh kemauan menghafal haadits,mengumpul dan membukukannya ,dan mulailah ahli-ahli ilmu berpindah dari suatu tempat ke suatu tempat.dari sebuah negeri ke negeri lain untuk mencari hadits.Hal ini kian hari kian bertambah maju.
Mula –mula kebanyakan ulama islam mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat di kota mereka masing-masing . Sebagian kecil saja diantara mereka yang pergi ke kota lain untuk kepentingan hadits.
Keadaan ini dipecahkan oleh Al Bukhari.beliau lah yang mula-mula meluas di daerah-daerah yang dikunjungi untuk mencari hadits. Beliau keMaru, Naisabur, Rei, ,Basyrah,kufah,Makkah,Mesir,Damsyik,Qaisariah,atsqalan dan himmash.
Ringkasnya,beliau membuat langkah mengumpulkan hadits-hadits yang tersebar di berbagai daerah 16 tahun lamanya terus-menerus Al Bukhari menjelajah untuk menyiapkan kitab sahihnya.
Pada mula-mula dahulu ulama-ulama islam menerima hadits dari para perawi lalu menulis kedalam bukunya, dengan tidak mengadakan syarat-syarat menerimanya dan tidak memperhatikan sahih tidaknya.
Musuh yang berkedok dan berselimut islam melihat kegiatan-kegiatan ulama hadits dalam mengumpulkan hadits. Maka mereka pun menambah kegiatannya untuk mengacau balaukan hadits, yaitu dengan menambah-nambah hadits lafalnya, atau membuat hadits maudlu.
Menambah kesungguhan musuh-musuh islam dan mengisafi akibat-akibat perbuatan mereka, bersungguh-sungguh para ulama-ulama hadits:
a. Membahas keadaan perawi-perawi dari berbagai-bagai segi:
– keadilan
-Tempat kediaman
-Masa dan lain-lain.
b. memisahkan hadits-hadits yang sahih dari yang dla’if, yakni mentashihkan hadits.
Pembahasan mengenai diri pribadi perawi mengujudkan :
1-qaedah-qaedah tahdits
2- “illat-illat hadits
3- tarjamah prawi-prawi hadits.
Ringkasnya, lahirlah tunas ilmu dirayah (ilmu dirayatil hadits) yang banyak macamnya disamping ilmu riwayah (ilmu riwayatil hadits).
Pentashihan dan penyaringan hadits, atau memisahkan yang sahih dari yang dla’if dengan mempergunakan syarat-syarat pentashihan, baik mengenai perawi-perawi riwayat, thammul dan ada’ melahirkan ;
1. Kitab-kitab sahih
2. Kitab-kitab sunan

C. Imam yang mula-mula membukukan hadits yang dipandang sahih saja.

Sekiranya kekeruhan itu terus menurus berlaku, tentulah kita tak dapat meminum airnya dan tak dapat mengamalkan isinya. Apalagi bila diingay pada masa itu telah banyak muncul orang zindik dan yahudi yang membuat hadis-hadis palsu dengan jalan sangat licik dan suka untuk diketahui kepalsuannya.
Untuk menyaring hadis-hadis itu serta membedakan hadis-hadis yang shahih dari yang palsu dan dari yang lemah bangunlah seorang ilmu hadis yang besar, Ishak Ibnu Rohawai, memulai usaha memimasahkan hadis-hadis yang shahih dan yang tidak.
Pekerjaan yang mulia ini kemudian disempurnakan oleh Al-Imam Al Bukhari. Dan menyusun kitab yang terkenal dengan nama Al Jami’ Ussahih. di dalamnya hanya dibukukan hadis-hadis yang shahih saja. Kemudian usaha Al Bukhari diikuti oleh muridnya yang bernama Al Imam Muslim. Maka dengan jerih payah kedua ulama besar ini terdapatlah oleh kita sumber hadis yang bersih.
Sesudah shahih Al Bukhary dan shahih muslim tersususn ,bangun pula beberapa orang imam yang lain menuruti jejak kedua pujangga di atas.Diantaranya : Abu daud ,At Turmudzy dan An nasaiy.
kitab-kitab beliau yang lima ini yakni:
1. Shahih Al Bukhary
2. Shahih Muslim
3. Sunan Abu Daud
4. Sunan at Turmudzy
5. Sunan An Nasa-y

Itulah yang kemudian terkenal dalam kalangan masyarakat ulama dengan kitab-kitab pokok yang lima ( Al Ushulul Khamsah )
Untuk mentashihkan hadits dibutuhkan pengetahuan yang luas tentang tarikh rijalil Hadits,tanggal lahir dan wafat para perawi ,bagaimana nilai kebenaran dan kepercayaan perawi itu ,nilai-nilai hafalan mereka ,siapa yang benar dapat dipercayai ,siapa yang terrutup keadaannya,siapa yang dusta,dan siapa yang lalai.
Al Bukhory mempunyai dua keistemawaan :
1. hafalan yang sungguh kuat yang jarang kita temukan bandingnya.
2. keahlian dalan meneliti keadaan perawi -perawi yang nampak kita lihat dalam kitab tarikhnya yang disususn untuk menerangkan keadaan perawi hadits.
Al Bukhori dan Al Muslim mensyaratkan dalam mentashih hadis :
• Sanad yang Muttasil .
• Perawi yang muslim, yang bersifat benar, tak suka bertadlis dan tidak berubah akal, adil, kuat hapalan, tak ragu-ragu dan baik pula iktikad nya.
Mengenai orang-orang yang bukan tokoh, maka baik Al Bukhori maupun muslim menerima riwayatnya asalkan perawi itu kepercayaan, adil, tidak banyak khilaf atau keliru.
D. Langkah-langkah yang diambil untuk memelihara hadis
Telah di jelaskan bahwa para ulama membukukan hadits dan memisahkan hadits dari fatwa-fatwa sahabat dan tabi’in atau memisahkan yang shahih dari yang dla’if, beliau-beliau itu memberikan pula kesungguhannya yang mengagumkan untuk menyusun kaidah-kaidah hadits, usul-usulnya, syarat-syarat menerima riwayat, syarat-syarat menolaknya, syarat-syarat shahih dan dla’if, serta kaidah-kaidah yang dipegangi dalam menentukan hadits-hadits maudlu.
Semua itu mereka lakukan untuk memelihara sunah Rasul dan untuk menetapkan garis pemisah antar yang shahih dengan yang dla’if.
Langkah-langkah para ulama dalam usaha mengkritik jalan-jalan menerima hadits sehingga dapatlah mereka melepaskan sunnah dari tipu daya para pendaya dan membersihkannya dari segala lumpur yang mengotorinya, ialahh :
• Mengisnadkan Hadits, memeriksa benar tidaknya hadits yang diterrima kepada para ahli,
• Mengeritik para Perawi, membuat ketentuan-ketentuan umun untuk menentukan derajad-derajad hadits, menyusun kaidah-kaidah untuk menentukan kaidah-kaidah maudlu’.
Para ulama membagi hadits kepada beberapa derajad. Bagi masing-masingnya ditetapkan kaidah-kaidah tertentu, sebagaimana mereka membuat kaidah-kaidah untuk membedakan derajad dengan derajad yang lain.
Mereka membagi hadits kepada shahih dan dla’if, dengan kata lain perkataan mereka melahirkan ilmu musthaal hadits, yaitu :ilmu yang menetapkan kaidah-kaidah ilmmiah untuk menshahihkan khabar dan kaidah-kaidah ilmiah untuk mengeritik, mengoreksi khabar dan riwayat.
Di antara tokoh-tokoh hadits yang lahir dalam masa ini ialah:
1. Ali Ibnul Madany
2. Abu Hatim Ar razy
3. Muhammad Ibnul Jarir At Thabary
4. Muhammad Ibnu Sa’ad
5. Akhmad Hidayat
Macam-macam kitab hadits yang tersusun pada abad ketiga ini adalah :
1. Kitab-kitab shahih
2. Kitab-kitab sunan
3. Kitab-kitab musnad
*Kitab-kitab shahih ialah : kitab-kitab yang penyusunannya tiada pemasukan kedalamnya, selain dari hadits-hadits yang shahih saja
*Kitab-kitab sunat (kecuali sunad Ibnu Mazah) : kitab-kitab oleh pengarangnya tidak dimasukkan kedalamnya hadits-hadits yang munkar dan yang sepertinya
*Kitab-kitab musnad: kitab-kitab yang penyusunannya dimasukkan kedalamnya segala rupa hadits-hadits yang diterima, dan tidak menerangkan derajad-derajadnya
Ulama-ulama Mutaakhirin sependapat menetapkan, bahwa kitab pokok, lima buah, yaitu :
1. Shahih Al bukhary
2. Shahih Muslim
3. Sunan Abu Daud
4. Sunan An nasa-y
5. Sunan At Turmudji
Kitab yang lima tersebut di atas mereka namai ’’Al Ushulu’l-Khamsah.” Atau “Al Kutubu ‘l Khamsah.
Sebagian ulama mutaakhirin yaitu, Abul Fadli, Thahir, menggolongkan pula ke dalamnya sebuah kitab pokok lagi, sehingga terkenalah dalam masyarakat “Al Kutubu ‘l-Sittah” (kitab enam), beliau memasukkan Sunan Ibnu Mazah menjadi kitab pokok yang keenam.
Nilai dan keadaan kitab :
1. Shahi Al Bukhary
Shahi Al Bukhary, adalah kitab yang mula-mula yang membukukan hadits-hadits Shahi. Para ulama hadits menetapkan bahwa Shahi Al Bukhary adalah sesahih-sahih kitab sesudah Al Qur’an.
Beliau menamainya dengan “Al Jami’u ‘sh-Shahih al Musnadu min hadisi Rasul s.a.w
Isinya berjumlah 9082 buah hadits Mar’fu dan sejumlah hadits Mauquf dan ma’tu.
Ada 4 buah kitab syarah Bukhary yang terpandang tinggi dari segala jurusan :
a. At Tanqih, karangan Badruddin Az Zarkasyy
b. At Tawsyih, karangan Jalaluddin As Sayuthy
c. Umdatul Qari, karangan Badruddin Al ‘Ainy
d. Fat-hul Bari, karangan Syihabuddin Al ‘Asqalany
Fat-hul Barilah, yang merupakan kitab yang terbaik di antara keempat kitab di atas, sehingga digelarkan : “raja Syarah Bukhary”.
2. Shahih Muslim
Shahih Muslim ini kitab yang kedua, pokok yang kedua dari kitab hadits yang menjadi pegangan sesudah Shahi Bukhary, Shahi Muslimlah yang dijadikan pegangan.
Shahih Muslim lebih baik susunannya dari pada shahi Al Bukhary karena itu lebih mudah kia mencari hadits didalamnya daripada mencari didalam Shahi Al Bukhary.
Kitab-kitab sharahnya banyak juga, ada lima belas buah. Yang amat terkenal adalah :
a. Al Mu ‘lim bi Fawa-idi Muslim, karangan Al Mazary (536 H)
b. Ak Ikmal, karangan Al Qadli ‘Iyadl (544 H)
c. Minhaju ‘I-Muhadditsin, karangan An Nawawy (676 H)
d. Ikmalul Ikmal, karangan Az Zawawy (744 H)
e. Ikmalul Ikmali Mu ‘lim, karangan Abu Abdillah Muhammad Al Abiyy Al Maliky (927 H)
Sebagian dari Mukhtasarnya, ialah Mukhtasa Al Mundziry.
3. Sunan An Nasa-y
Sunan ini bernama : Al mujtabal mina ‘I-sunan (sunan-sunan pilihan), karena pada mula-mualnya An Nasa-y menusun susunannya yang besar lalu memberikannya kepada seoarang amir di Ar Ramlah. Bila dikatakan orang : “Hadits riwayat An nasa-y”, maka yang dimaksud ialah “riwayat yang di dalam al Mujtaba’ itu”.
Di antara para sarjana yang menyerahkannya, ialah : As Sayuthy dan As Sindy. Kitab ini yang paling kurang mendapat syarahan dari para ahli sebagai yang diterangkan oleh As Sayuthy. Al Mujtaba dipandang pokok yang ketiga. Zawaidnya atas Al Bukhary/Muslim, abu daud, at turmudzy, telah disyarahkan oleh Ibnul Mulaqqim.
4. Sunan Abu daud
Sunan Abu daud berisi hadits hokum, sedikit saja yang berhubunagn dengan urusan-urusan lain.
Sebagus-bagusnya mukhtasarnya ialah : Al Mujtaba’ susunan Al Mundiry yang telah ‘ disyarahkan oleh as sayuthy, Al Mujtaba’ itu telah disaring oleh Ibnul Qaiyim Al Jauziyah. Dan saringan itu dinamai : “Tahdzibu ‘s_Sunan”. Sunan Abu Daud ini dipandang pokok yang keempat. Zawaidnya atas Al Bukhary/Muslim telah disyarahkan oleh Ibnu Mulaqqim.
5. Sunan At Tarmudzy
Beliau menulus hadits dengan menerangkan yang shahih dan yang tercatat serta sebab-sebabnya sebagaimana beliau menerangkan pula mana-mana yang diamalkan dan mana-mana yang ditinggalkan. Sunan At Turmudzy ini dipandang sebagai pokok yang kelima. Zawaidnya atas Shahihain dan Abu Daut telah syarahkan oleh Ibnul Mulaqqim.
6. Sunan Ibnu Majah
Yang mula- mula menjadikan sunan ini kitab yang keenam, ialah : Ibnu Thahir Al Maqdisy, kemudian dituruti oleh Al Hafidh Abdul Ghany Al Maqdisy dalam kitab Al Ikmal. Mereka mendahulukan sunan ini atas Al Muwaththa’, karena banyak zawaidnya atas kitab lain.
Sebagian dari syarah Sunan Ibnu Majah, ialah : Mishbahu ‘z-Zujajah, karangan As-Sayuthy dan Syarah As-Sindy.
Hadits yang hanya diriwayatkan sendiri oleh Ibnu Majah kebanyakannya dla’if. Hal ini dapat diketahui dengan penerangan syarah-syarahnya.
Zawaid-zawaidnya atas kitab lima telah disyarahkan oleh Ibnul Mulaqqim. Syarah ini dinamai : ma tanussu ilaihi’l hajal ‘ala sunani Ibnu Majah.
7. Sunan Ad Darimy
Sunan Ad darimy lebih banyak mengandung hadits yang Shahih jika disbanding dengan Sunan Ibnu Majah dan sepertinya. Cuma sedikit saja hadits yang tidahk shahih terdapat di dalamnya.
Sunan ini lebih tinggi dari pada Sunan Ibnu Majah. Karena itulah sebagian ulama hhadits menjadikan Sunan Ad Darimy, pokok yang keenam.
Al Hafidh Al Asqalany memuji kitab ini dan menyatakan lebih baik dari pada susunan Ibnu Majah.
8. Al Muntaqa 9 Muntaqa Ibnu’l Jarud)
Kitab ini sebuah kitab yang dipandang baik oleh para ahli hadits.
Menurut Ahmad Muhammad Syakir, bahwa Al Muntaqa ini lebih patut dijadikan kitab yyang keenam.
9. Musnad Ahmad
Musnad ahmad adalah sebuah kitab hadits yang besar kadarnya, tinggi derajadnya, dalam pandangan ahli hadits.Penyusunnya, ialah ; Ahmad, seorang imam empat. Musnad ini dipandang pokok juga (pokok yang ketujuh). Isinya berjumlah 40.000 buah hadits. 10.000 di antaranya berulang-ulang.
Sekiranya Musnad ini tetap ini tetap tinggal sebanyak yang disusun Ahmad sendiri, maka tak adalah di dalamnya hadits yang tak dapat dipakai sama sekali.
10. Muwaththa ‘ Malik
Muwaththa’ Malik, kitab yang paling tua yang sampai ketangan kita. Kitab ini ditulis oleh Imam Malik Ibnu Anas Al Ashbahy atas permintaan Al manshur.
Hadits-hadits Al Muwaththa’ dipandang shahih oleh malik. Berdasarkan atas permintaan Ashbahy atas permintaan Al manshur.
Hadits-hadits Al Muwaththa’ dipandang shahih oleh Malik, berdasarkan pendapatnya memegangi hadits-hadits mursal dan munqathi’.
Kitab Al Muwaththa telah dicetak dengan typografi yang baik dengan diberikan ta’liq yang ringkas serta diterangi ahli-ahli hadits-hadits yang turut meriwayatkan hadits Al Muwaththa’ itu, oleh Al Ustadz Muhammad Fuad Abdul Baqi.
Di antara Mukhtasarnya, ialah : Mukhtasar Al Khaththaby (388 H) dan Mukhtasar Abdul Walid Al Bajy (774 H).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s