Standar

HADITS DALAM PERIODE PERTAMA
(MASA RASUL)
A. Masa petumbuhan hadits dan jalan-jalan para sahabat memperolehnya.

Rasul hidup di tengah-tengah masyarakat sahabatnya. Mareka dapat bertemu dan bergaul dengan beliau secara bebas. Tak ada protokol-protokolan yang menghalangi mareka bergaul dengan beliau. Yang tidak di benarkan, hanyalah mareka langsung masuk kerumah Nabi, dikala beliau tak ada dirumah. Yakni tak boleh mareka terus masuk ke rumah dan berbicara dengan par istri Nabi, tampa hijab.
Nabi mengauli mareka, di rumah,di mesjid,di pasar,di,jalan, di dalam safar dan di dalam hadlar.
Seluruh perbutan Nabi, demikiann juga seluruh ucapan dan tutur-kata beliau menjadi tumpuan perhatian para sahabat. Segala gerak gerik beliau mareka jadikan pedoman hidup.
Berdasrkan kepada kesungguhan meniru dan meneladani beliau, berganti-gantilah para sahabat yang jauh dari mesjid,mendatangi majlis-msjlis nabi.
“Umar Ibnu ‘i-Khaththab menurut riwayat AL Bukhary menerangkan yang artinya :
“ Aku dan seorang temanku (tetanggaku) dari golongan anshar bertempat di kampung Umaiyah ibn Tazid, sebuah kampong jauh dari kota madinah. Kami berganti-ganti datang kepada Rasul. Kalau aku yang turlau hari ini aku yang turun, esok tetanggaku yang pergi. Kalau aku yang turun ,aku beritakan kepada tetanggaku apa yang aku dapati dari rasulullah.Kalau dia prig, demikian juga. Pada suatu hari,pada giliranya, sahabatku pergi. Sekembalinya,dia menetuk pintu rumahku dengan keras seyara berkata : “adakah umar di dalam ? “Aku terkejut lalu keluar mendapatinya. Rasul telah mentalak isteri-isterinya. Aku berkata :”memang sudah ku duga terjadi pristiwa ini”. Sesudah saya bersambahyang shubuh, saya pun langsung berkemas lalu pergi. Sesampai di kota, saya masuk ke rumah Hafshah. Saya dapati dia sedang menangis . maka saya bertanya : Apakah engkau telah ditalak oleh rasul ?:. Hafshah menjawab :”saya tak tahu”. Sejurus kemudian saya masuk ke bilik Nabi; sambil berdiri saya berkata : Apakah anda telah mentalak isteri-isteri anda ?”. Nabi menjawab : “Tidak”. Dikala itu sayapun saya mengucapkan “Alalhu Akbar”.
Riwayat ini menerangkan, bahwa para sahabat sangat benar memperhatikan gerak-gerik nabi dan sangat benar memerlukan untuk mengetahui segala apa yang di sabdakan Nabi.
Kabilah-kabilah yang tinggal jauh dari kota madinah selalu mengutus salah seorang anggotanya pergi mendatangi Nabi untuk mempelajari hukum-hukum agama. Dan sepulang mareka ke kampungnya, mareka segera mengajar kawan-kawanya sekampung.
Sebagian sahabat sengaja dari tempat-tempat yang jauh mendatangi Nabi, hanya untuk menanyakan Sesutu hokum Sar’y.
Diriwayatkan oleh Malik dari Atha ibn Yassar bahwa seseorang lelaki dari sahabat mengirimkan isterinya untuk bertanya kepada Rasul tenteng hukum mencium isteri dikala berpuasa. Maka Ummu salamah memberitahukan kepada wanita yang bertanya itu,bahwa Nabi pernah menciumnya dikala belaiu berpuasa. Wanita tersebut menerangkan hal itu kepada suaminya. Maka lelaki itu berkata: “aku bukan seperti Rasulullah. Allah menghalalkan bagi Rasulnya apa yang dikehendaki”. Perkataan itu sampai kepada Rasululah. Karena itu Nabi marah mendengarnya seraya berkata :

“Bahwasanya aku lebih taqwa kepada Allah dari pada kamu dan lebih mengetahui hukum-hukumnya”. (Hadits ini diriwayatkan juga oleh AL Syafi’y dalam Al risalah.)
Para sahabat menerima hadits (syari’at) dari Rasul s.a.w ada kala langsung dari beliau sendiri,yakni mareka langsung mendengar sendiri dari Nabi, baik karena ada sesuatu soal yang di majukan oleh seseorang lalu Nabi menjawabnya, ataupun karena Nabi sendiri yang memulai pembicaraan, adakala tidak langsung yaitu mareka menerima dari sesama sahabat yang telah menerima ari Nabi, atau mareka menyuruh seseorang bertanyakepada Nabi, jika mareka sendiri malu bertanya.

B. Para sahabat tidak sederajat dalam mengetahui keadaan Rasul.

Semua sahabat, umumnya menerima hadits dari Nabi s.a.w dalam pada itu, para sahabat tidak sederajat dalam mengatahui keadaan Rasul s.a.w. Ada yang tinggal di kota,di dusun,berniaga,bertukang.Ada yang sering berada di kota ,ada pula yang sering bepergian,ada yang terus menerus beribadat, tinggal di mesjid , tidak memperoleh kerja. Tempo-tempo saja beliau melakukan yang demikian.

Ceramah terbuka diberikan beliau hanya pada tiap-tiap hari jum’at hari-hari raya dan waktu-waktu yang tidak ditentukan, jika keadaan menghendaki.

Diriwayatkan oleh Bukharyari Ibnu Mas’ud ujarnya :

“Nabi selalu mencari waktu-waktu yang baik buat memberikan pelajaran, supaya kami tidak bosdan kepadanya”.

C. Para sahabat yang banyak menerima pelajaran dari Nabi.

1. yang mula-mula masuk islam yang dinamai “as sabiquna ‘l-awwalun”, seperti : Khulafa empat dan Abdullah Ibnu Mas’ud.
2. Yang selalu berada di samping Nabi dan bersungguh-sungguh menghafalnya, seperti Abu Hurairah.
3. Yang lama hidunya sesudah Nabi, dapat menerima hadits dari sesama sahabat,seperti Anas ibn malik dan Abdullah ibn abbas.
4. yang erat perhubunganya dengan Nabi, yaitu : Ummu-hatu’lMu’minin, seperti Aisyah dan ummu salamah.

Menurut catatan Adz Dzahaby, 31 orang shababy yang banyak meriwayatkan hadits. Diantaranya : Ummu Salamah dan Khulafa Rasyidin.

Pegangan sahabat dalam menghafal hadits.

Para sahabat dalam menerima hadits dari nabi, berpegangan kepada kekutan hafalannya, Yakni menerimanya dengan jalan hafalan bukan dengan jalan menulis. Sahabat-sahabat rasul yang dapat menulis sedikit sekali. Mareka mendengar dengan hati-hati apa yang Nabi sabdakan Lalu tergambarlah lafal atau makna itu dalam dzihin mareka. Mareka melihat apa yang Nabi kerjakan.dan mareka mendengar pula dari orang yang mendengarnya sendiri dari rasul.Karena tidaklah semua mareka pada setiap waktu dapat menghadiri majlis Nabi. Para sahabat menghafal hadits dan menyampaikannya kepada orang lain secara hafalan pula. Hanya beberapa orang sahabat saja yang mencatat hadits yang di dengarnya dari Nabi.

D.Sebab-sebab hadits tidak ditulis Setiap-tiap Nabi meyebutkannya.

Rasul memerintahkan para sahabat untuk menghafal AL Qur-an dan menulisnya di keping-kepingan tulang, di pepepah korma, di batu-batu dan lain-lain. Diketika Rasulullah wafat, AL Qur-an telah dihafal dengan sempurna dan telah lengkap ditulis; hanya yang belum, dikumpulkan dalam mushaf saja.

Boleh jadi, perbedaan-perbedaan perhatian dan tidak membukukan hadits disebabkan oleh fakto-faktor ini :

a. Mentadwinkan ucapan-ucapanya, amalan-amalanya,muamalah-muamalahnya, adalah satu keadaan yang sukar,karena memerlukan ada segolongan sahabat yang terus menerus harus meyertai Nabi untuk menulis segala yang tersebut di atas padahal orang-orang yang dapat menulis pada masa itu,masih dapat di hitung.
Oleh karena AL qur-an merupakan sumber asasidari tasyri’’,maka beberapa orang penulis itu, dikerahkan tenaganya untuk menulis AL qur-an dan Nabi memanggil mareka untuk menuliskan wahyuitu setiap turunnya.
b. Karena orang arab disebabkan mareka tak pandai menilis, dan membaca tulisan,kuat berpegang kepada kekuatan hafalan dalam segala apa yang mareka ingin menghapalnya.
c. Karena dikwatirkan akan bercampur dalam catatan sebagian sabda Nabi dengan AL Qur-an dengan tidak di sengaja.

Karena itu Nabi s.a.w melarang mareka menulis hadits,beliau khawatir sabda-sabdanya akan bercampur dengan firman ilahi.

Muslim memberitakan dari Abu Sa’id AL Khudry,bahwa Nabi s.a.w bersabda :

“jangan anda tulis apa yang anda dengardari pada aku,selain dari pada AL Qur-an.Barangsiapa yang telah menulis sesuatu yang selain dari AL Qur-an hendaklah di hapuskan”.

Dan nabi bersanda lagi :

“Dan ceritakanlah dari padaku. Tak ada keberatan anda ceritakan apa yang anda dengar dari padaku. Barang siapa berdusta terhadap diriku (membuat suatu kedustaan,padahal aku tidak menyatakannya), hendaklah dia bersedia menempati kediamanya di dalam neraka”.

Hal ini tidak menghalangi adanya para sahabat yang menulis hadits dengan cara tidak resmi.

E. Kedudukan usaha menulis hadits di masa Nabi s.a.w

Riwayat-riwayat yang benar ada menceritakan bahwa sebagian sahabat mempuyai lembaran-lembaran yang tertulis hadist.Mareka bukukan di dalamnya sebagian hadits yang mereka dengar dari Rasul s.a.w seperti Shahifah Abdullah ibn Amer IBN ‘Ash,yang dinamai “Ash-Shadiqah”.
Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al Baihaqy dari Abu Hurairah,ujarnya :

“Tak ada seorang dari sahabat Nabi yang lebih banyak(lebih mengetahui) hadits Rasul dari padaku, selain Abdullah ibn Amer bin ‘Ash. Dia menuliskan apayang dia dengar,sedangakan aku tidak menulisnya”.

Menurut sebuah riwayat , Anas bin Malik juga mempuyai sebuah buku catatan.

Sebagian sahabat menyatakan keberatanya terhadap pekerjaan yang dilakukan Abdullahitu. Mareka berkata kepada Abdullah.

“Anda selalu menulis apa yang anda dengar dari Nabi,padahal beliau kadang-kadang dalam keadaan marah,lalu beliau menurutkan sesuatu yang tidak dijadikan syari’at umum”.

Mendengar itu Abdullah bertanya kepada Nabi, Apakah boleh dia menulis hadits-hadits yang di dengarnya dari Nabi. Nabi menjawab :

“Tulislah apa yang anda dengar daripadaku; demi Tuhan yang jiwakudi tanganya, Tidak keluar dari mulutku,selain kebenaran”.

Selain dari pada itu Nabi s.a.w sendiri pernah mengirim surat kepada sebagian pegawainya menerangkan kadar-kadar zakat unta dan kambing.Dan pernah dengan tegas Nabi s.a.w memerintahkan sahabat menulis hadits.

F. Pendapat ulama dalam mentaufikkan hadits yang mencegah orang menulis hadits dengan haditsyang membolehkanya.

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa : Larangan menulis hadits yang dinashkan oleh hadits Abu sa’id, dimansukhkan dengan izin yang datang sesudahnya.

Sebagian ulama yang lain berpendapat, bahwa : larangann menulis hadits teertentu dengan mereka yang di khawatirkan akan mencampur adukan dengan hadits AL Qur-an. Izin hanya diberikan kepada mareka yang tidak di khawatirkan mencampur adukkan hadits dengan Al Qur-an itu.

Tegasnya, mareka nerpendapat bahwa : tak ada pertentangan antara larangan dan keizinan, apabila kita fahamkan,bahwa yang dilarang pembukuan resmi sebagai mentadwidkan AL Qur-an, dan keizinan itu diberikan kepada mareka yang hanya menulis Sunnah untuk diri sendiri.Riwayat Abdullah ibn ‘Amer menguatkan pendapat ini.

Dan dikuatkan pula kebolehan menulis hadits secara tidak resmi,oleh riwayat AL Bukhary yang meriwayatkan bahwa diketika Nabi dalm sakit berat, beliau meminta dituliskan pesan-pesanya untuk menjadi pegangan ummat. Akan tetapi karena dikala itu nabi dalam keadan berat sakitnya, Umar menghalang-halangi karena ditakuti menambahkan berat sakit Nabi.

Dan dapat pula dipahamkan, bahwa sesudah Al Qur-an di bukukan,di tulis dengan sempurna dan telah pula lengkap turunnya, barulah dikeluarkan keizinan menulisn sunnah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s